
Menjemput Ruh Shalat Menurut Imam Ghazali
Shalat itu bukan sekadar gerakan tubuh dari satu gerakan ke gerakan lainnya. Coba rasakan dengan seksama, shalat adalah dzikir untuk menemui Sang Pencipta. Ia didirikan tidak lain dan tidak bukan untuk mengingat-Nya.
Seperti firman-Nya:
“Dirikanlah shalat demi untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha: 14).
Tanpa kehadiran hati, shalat hanyalah gerakan raga yang hampa seperti tubuh tanpa nyawa. Khusyuk menjadi pembeda antara hamba yang benar-benar menghadap Allah, dengan mereka yang berdiri dengan kelalaian hatinya.
Kita seringkali melangkah ke sajadah dalam keadaan mabuk. Mabuk di sini bukan karena khamar, tetapi mabuk oleh cinta dunia dengan menyertakan ambisi-ambisi dan keruwetan hidup ketika sedang menghadap-Nya
Kita mampu menghafal bacaan sholat, melantunkan ayat demi ayat, namun pikiran melantur jauh kemana-mana. Padahal kita sedang berdialog bersama Sang Khalik, Sang Pemilik, tetapi mengapa hati dan pikiran tak dapat mengingat-Nya? Mengapa hati tak mampu hadir bersama-Nya?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan, tanggalkan segala kebanggaan, karena hakikat shalat adalah ‘tamasuk’, yaitu momen di mana kita menanggalkan segala atribut kehebatan, menampakkan kemiskinan serta ketawadhuan di hadapan Sang Rabb.
Shalat sejatinya adalah milik mereka yang di dalam qolbunya senantiasa membesarkan nama Allah, mampu mengecilkan bahkan me-nol-kan dirinya. Merasa bukan siapa-siapa, merasa teramat kerdil di hadapan-Nya. Seperti butiran debu yang tak terlihat dan sangat mudah lenyap dihembus, betapapun lembutnya angin bertiup.
Sumber: Menjala Pahala dengan Shalat, karya Imam al-Ghazali.